Kamis, 16 April 2009

KEAJAIBAN LEBAH MADU


Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. (QS. An-Nahl, 16:68)

Lebah madu membuat tempat penyimpanan madu dengan bentuk heksagonal. Sebuah bentuk penyimpanan yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk geometris lain. Lebah menggunakan bentuk yang memungkinkan mereka menyimpan madu dalam jumlah maksimal dengan menggunakan material yang paling sedikit. Para ahli matematika merasa kagum ketika mengetahui perhitungan lebah yang sangat cermat. Aspek lain yang mengagumkan adalah cara komunikasi antar lebah yang sulit untuk dipercaya. Setelah menemukan sumber makanan, lebah pemadu yang bertugas mencari bunga untuk pembuatan madu terbang lurus ke sarangnya. Ia memberitahukan kepada lebah-lebah yang lain arah sudut dan jarak sumber makanan dari sarang dengan sebuah tarian khusus. Setelah memperhatikan dengan seksama isyarat gerak dalam tarian tersebut, akhirnya lebah-lebah yang lainnya mengetahui posisi sumber makanan tersebut dan mampu menemukannya tanpa kesulitan.

Lebah menggunakan cara yang sangat menarik ketika membangun sarang. Mereka memulai membangun sel-sel tempat penyimpanan madu dari sudut-sudut yang berbeda, seterusnya hingga pada akhirnya mereka bertemu di tengah. Setelah pekerjaan usai, tidak nampak adanya ketidakserasian ataupun tambal sulam pada sel-sel tersebut. Manusia tak mampu membuat perancangan yang sempurna ini tanpa perhitungan geometris yang rumit; akan tetapi lebah melakukannya dengan sangat mudah. Fenomena ini membuktikan bahwa lebah diberi petunjuk melalui “ilham” dari Allah swt sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 68 di atas.



Sejak jutaan tahun yang lalu lebah telah menghasilkan madu sepuluh kali lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Satu-satunya alasan mengapa binatang yang melakukan segala perhitungan secara terinci ini memproduksi madu secara berlebihan adalah agar manusia dapat memperoleh manfaat dari madu yang mengandung “obat bagi manusia” tersebut. Allah menyatakan tugas lebah ini dalam Al-Qur'an:

Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An-Nahl, 16: 69)

Tahukah anda tentang manfaat madu sebagai salah satu sumber makanan yang Allah sediakan untuk manusia melalui serangga yang mungil ini?

Madu tersusun atas beberapa molekul gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, potasium, sodium, klorin, sulfur, besi dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas madu bunga dan serbuk sari yang dikonsumsi lebah. Di samping itu di dalam madu terdapat pula tembaga, yodium dan seng dalam jumlah yang kecil, juga beberapa jenis hormon.

Sebagaimana firman Allah, madu adalah “obat yang menyembuhkan bagi manusia”. Fakta ilmiah ini telah dibenarkan oleh para ilmuwan yang bertemu pada Konferensi Apikultur Sedunia (World Apiculture Conference) yang diselenggarakan pada tanggal 20-26 September 1993 di Cina. Dalam konferensi tersebut didiskusikan pengobatan dengan menggunakan ramuan yang berasal dari madu. Para ilmuwan Amerika mengatakan bahwa madu, royal jelly, serbuk sari dan propolis (getah lebah) dapat mengobati berbagai penyakit. Seorang dokter asal Rumania mengatakan bahwa ia mencoba menggunakan madu untuk mengobati pasien katarak, dan 2002 dari 2094 pasiennya sembuh sama sekali. Para dokter asal Polandia juga mengatakan dalam konferensi tersebut bahwa getah lebah (bee resin) dapat membantu menyembuhkan banyak penyakit seperti bawasir, penyakit kulit, penyakit ginekologis dan berbagai penyakit lainnya.

Back To Nature - Honey

Author: James Minnie

Honey use and production has a long and varied history. In many cultures, honey has associations that go beyond its use as a food. It appears in literature, religion, linguistics, folk belief and is frequently a talisman and symbol of sweetness. The main uses of honey are in cooking, baking, as a spread on breads, as an addition to various beverages such as tea and as a sweetener in commercial beverages. It is the main ingredient in the alcoholic beverage mead, which is also known as "honey wine" or "honey beer" (although it is neither wine nor beer). It is also used as an adjunct in beer. It is a sweet fluid produced by honey bees and derived from the nectar of flowers. It gets its sweetness from the fructose and glucose, has attractive chemical properties for baking and a distinctive flavour which leads some people to prefer it over sugar and other sweeteners.

It contains Carbohydrates (Sugars and Dietary fibre), Fat, Protein, Water, Vitamins B2 (Riboflavin), B3 (Niacin), B5 (Pantothenic acid), B9 (Folate), B6 and C, Calcium, Iron, Magnesium, Phosphorus, Potassium, Sodium and Zinc. It is a mixture of sugars and other compounds. With respect to carbohydrates, honey is mainly fructose (about 38.5%) and glucose (about 31.0%). Honey's remaining carbohydrates include maltose, sucrose, and other complex carbohydrates. It also contains tiny amounts of several compounds thought to function as antioxidants, including chrysin, pinobanksin, vitamin C, catalase, and pinocembrin. The specific composition of any batch of honey will depend largely on the mix of flowers available to the bees that produced the honey.
Its collection is an ancient activity. Eva Crane The Archaeology of Beekeeping (1983) states that humans began hunting for honey at least 10,000 years ago. She evidences this with a cave painting in Valencia, Spain. The painting is a Mesolithic rock painting, showing two female honey-hunters collecting honey and honeycomb from a wild bee hive. In Ancient Egypt, honey was used to sweeten cakes and cookies, and was used in many other dishes. Ancient Egyptian and Middle-Eastern people also used honey for embalming the dead. In the Roman Empire, honey was possibly used instead of gold to pay taxes. Pliny the Elder devotes considerable space in his book Naturalis Historia to the bee and honey, and its many uses. The fertility god of Egypt, Min, was offered honey. In some parts of post-classical Greece, like Rhodes, it was formerly the custom for a bride to dip her fingers in honey and make the sign of the cross before entering her new home.

Honey in the Bible. The Old Testament contains many references to honey. In The Book of Judges, Samson found a swarm of bees and honey in the carcass of a lion (14:8). In Matthew 3:4, John the Baptist is said to have lived for a long period of time in the wilderness on a diet consisting of locusts and wild honey. The book of Exodus famously describes the Promised Land as a "land flowing with milk and honey".

In Jewish tradition, honey is a symbol for the New Year—Rosh Hashana. At the traditional meal for that holiday, apple slices are dipped in honey and eaten to bring a sweet new year. Some Rosh Hashana greetings show honey and an apple, symbolizing the feast. In some congregations, small straws of honey are given out to usher in the New Year.

In Islam, there is an entire Surah in the Qur'an called al-Nahl (the Honey Bee). According to hadith, Prophet Muhammad strongly recommended honey for healing purposes. The Qur'an also promotes honey as a nutritious and healthy food.

In Buddhism, honey plays an important role in the festival of Madhu Purnima, celebrated by Buddhists in India and Bangladesh. The day commemorates Buddha's making peace among his disciples by retreating into the wilderness. The legend has it that while he was there, a monkey brought him honey to eat. On Madhu Purnima, Buddhists remember this act by giving honey to monks. The monkey's gift is frequently depicted in Buddhist art.

In Western culture the word "honey", along with variations like "honey bun" and "honey pot" and the abbreviation "hon", has become a term of endearment. In many children’s books bears are depicted as eating honey, (e.g. Winnie the Pooh) even though most bears actually eat a wide variety of foods, and bears seen at beehives are usually more interested in bee larvae than honey. In some European languages even the word for 'bear' (e.g. in Russian 'medvĂ©d', in Czech 'medved, in Hungarian medve, in Croatian 'medvjed') is derived from the noun which means 'honey' and the verb which means 'to eat'. Honey is sometimes sold in bear-shaped jars or squeeze bottles.

Because of its unique composition and the complex processing of nectar by the bees which changes its chemical properties, honey is suitable for long term storage and is easily assimilated even after long preservation. History knows examples of honey preservation for decades, and even centuries. A number of special prerequisites are, however, necessary to achieve these conservation periods. It includes sealing the product in vessels of chosen material, kept in a favourable environment of specific humidity, temperature, etc. One example is the natural process of bees sealing of the honey in honeycomb cells with wax caps. Acacia honey is known to be more resistant to crystallization.

Traditionally honey was preserved in deep cellars and stored in ceramic or wooden containers; however glass is now the favoured material. When conventional preservation methods are applied, it is not recommended to preserve it for longer than 2-3 years. As honey has a strong tendency to absorb outside smells, it is advisable to keep it in clean, hermetically sealed vessels. It is also advisable to keep it in opaque vessels, or stored in a dark dry place, preventing it from absorbing any moisture. If excessive moisture is absorbed it can ferment. It should not be preserved in metal containers, because the acids in the honey may promote oxidation of the vessel. This leads to increased content of heavy metals, decreases the amount of nutrients, and may lead to stomach discomfort or even poisoning. Because honey has a high tendency to absorb outside smells and moisture, it is not advisable to preserve it uncovered in a refrigerator, especially together with other foods and products. Excessive heat can have detrimental effects on the nutritional value of honey. Heating up to 37Deg C causes loss of nearly 200 components, part of which is antibacterial. Heating up to 40Deg C destroys invertase, and important enzyme. Heating up to 50Dec C turns the honey into caramel (the most valuable honey sugars become analogous to sugar).

For more than 2000 years, it has been used by humans to treat a variety of ailments through topical application, but only recently have the antiseptic and antibacterial properties of honey been chemically explained. Wound Gels that contain antibacterial honey and have regulatory approval for wound care are now available to help conventional medicine in the battle against drug resistant strains of bacteria MRSA. As an antimicrobial agent it may have the potential for treating a variety of ailments. Antibacterial properties are the result of the low water activity causing osmosis, hydrogen peroxide effect and high acidity.

Some studies suggest that the topical use of honey may reduce odours, swelling, and scarring when used to treat wounds; it may also prevent the dressing from sticking to the healing wound. A review in the Cochrane Library suggests that honey could reduce the time it takes for a burn to heal - up to four days sooner in some cases. Antioxidants in honey have even been implicated in reducing the damage done to the colon in colitis. Such claims are consistent with its use in many traditions of folk medicine. Most micro-organisms do not grow in honey because of its low water activity.

It appears to be effective in killing drug-resistant biofilms which are implicated in chronic rhinosinusitis. Topical honey has been used successfully in a comprehensive treatment of diabetic ulcers when the patient cannot use other topical antibiotics. It has also been used for centuries as a treatment for sore throats and coughs, and according to recent research may in fact be more effective than most common medicines. Mixed with lemon juice and consumed slowly, it coats the throat, alleviating discomfort. The antibacterial and antiseptic properties aid in healing sore throats and laryngitis.
NB: Honey frequently contains dormant endospores of the bacterium Clostridium botulinum, which can be dangerous to infants as the endospores can transform into toxin-producing bacteria in the infant's immature intestinal tract.

A main effect of bees collecting nectar to make honey is pollination, which is crucial for flowering plants. The study of pollens and spores in raw honey can determine the floral sources of honey. Because bees carry an electrostatic charge, and can attract other particles, the same techniques of can be used in area environmental studies of radioactive particles, dust, or particulate pollution.

Let's applaud the Honey Bee…
about author :
lectronics Technician married to Elena. Started web design, turned blogger, turned writer. Our Sites: www.kapriz-enterprises.com/blog/ or www.kapriz-enterprises.com
Article Source : http://www.articlesbase.com

Rabu, 25 Maret 2009

MINA MADU MURNI


MINA MADU MURNI

Penggunaan madu dalam pengobatan telah melegenda di seluruh dunia. Madu terbukti dapat menumpas flu, demam, influenza. Dalam ilmu pengobatan kuno, madu digunakan sebagai penyeimbang fungsi hati, menetralisir racun dan melenyapkan penyakit. Madu dikenal memiliki “Energi Netral”. Contoh sederhana pengobatan madu dengan mencampur dalam minuman panas untuk mengobati batuk kering atau radang tenggorokan. Para tabib Cina juga menggunakan madu untuk mengobati masalah pencernaan dan radang lambung, tekanan darah tinggi dan sembelit.
Sejak zaman dahulu, madu digunakan dalam perawatan kecantikan kulit dan untuk mengobati luka bakar/kulit kering karena madu bersifat melembabkan kulit dan mencegah pertumbuhan bakteri (anti infeksi). Bahan anti bakteri inilah yang berfungsi mengatasi serangan bakteri helicobakter pylori penyebab sakit perut dan gangguan pencernaan lainnya. Hal ini dikarenakan adanya senyawa hidrogen peroksida dan fitonutrisi.
Madu juga sangat baik diberikan pada anak-anak yang menderita diare akibat serangan bakteri escherichia coli. Menurut ahli nutrisi, kandungan glukosa yang tinggi dalam madu sangat menolong mengembalikan cairan tubuh si penderita diare dengan cepat. Kandungan fruktosa dalam madu berfungsi memperbaiki fungsi hati pada peminum minuman beralkohol sehingga proses pembersihan racun (detoxifikasi) berlangsung lebih cepat.

Khasiat madu murni Mina
1.Meningkatkan nafsu makan
2.Meningkatkan daya tahan tubuh
3.Memperlancar fungsi otak
4.Menyembuhkan darah tinggi / darah rendah
5.Menyembuhkan sariawan
6.Menyembuhkan keputihan
7.Menyembuhkan gatal-gatal
8.Menyembuhkan alergi
9.Membuat tidur nyenyak
10.Menyembuhkan asam urat
11.Menyembuhkan rematik / sakit pinggang
12.Menyembuhkan luka bakar, luka diabetes, dan luka infeksi bernanah (dioles pada bagian yang luka)
13.Memperkuat fungsi ginjal, memperlancar urine
14.Mempercepat pencernaan, menyembuhkan sakit maag
15.Memperkuat kandungan bagi ibu hamil
16.Meningkatkan hormon pertumbuhan dan sex

Kandungan Nutrisi dalam 100 gram madu :
Kalori 328 kal Mangan 0,4 mg
Air 17 gr Magnesium 3,5 mg
Protein 0,5 gr Thiamin 3,1 mg
Karbohidrat 82,4 gr Riboflavin 0,02 mg
Abu 0,2 gr Niasin 0,2 mg
Tembaga 9,2 mg Lemak 0,1 mg
Fosfor 6,3 mg pH 3,9 mg
Zat besi 1,5 mg Asam total 43,1 mg

Dosis : Dewasa 1 sendok makan pagi, siang dan malam
Anak ½ sendok makan, pagi, siang dan malam
Pada saat penyembuhan dosis ditambah lebih baik diminum dalam keadaan perut kosong

Senin, 23 Maret 2009

Senin, 16 Maret 2009

Madu Sebagai Antibiotik Yang Tersedia Bebas di Alam

Meskipun lebih dari 1400 tahun lalu Allah melalui ayat-ayat Al-Qur’an telah memberitahukan bahwa madu sebagai obat, baru beberapa tahun belakangan para ilmuwan membuat berbagai penelitian mengenai kemampuan madu sebagai obat.

Salah satu peneliti yang sangat mendalami masalah madu ini adalah Peter Nolan seorang ahli riset biokimia dari The University of Waikato – New Zealand. Peter Nolan mempunyai cerita favorit mengenai keandalan madu sebagai antibiotic ini, yaitu berdasarkan pengalaman langsung yang dialami seorang remaja Inggris berusia 20 tahun yang luka di tangannya tidak mempan diobati oleh berbagai jenis antibiotic. Remaja ini kemudian mendengar tentang pengobatan dengan madu dan minta dokternya untuk mengobati dengan madu. Karena berbagai cara telah dilakukan, maka team dokterpun tidak keberatan untuk mencoba cara lain dengan madu ini. Setelah pengobatan dengan madu berjalan selama satu bulan, ternyata luka di tangan remaja tersebut benar-benar sembuh dan tangannya dapat berfungsi kembali.

Madu ternyata dapat menumpas spesies microbial yang resistance terhadap antibiotic buatan manusia. Penggunaan madu sebagai antibiotic juga memiliki beberapa keunggulan antara lain :
• Pengobatan dengan madu tidak menimbulkan inflamasi
• Madu menyebabkan rasa sakit berkurang
• Madu membersihkan infeksi
• Madu menghilangkan bau pada luka
• Penyembuhan berjalan cepat tanpa menimbulkan bekas luka
• Madu bersifat antimicrobial yang dapat mencegah microba tumbuh
• Tidak menimbulkan rasa sakit pada saat penggantian pembalut karena tidak lengket
• Mempunyai stimulatory effect yang mempercepat tumbuhnya jaringan tubuh kembali

Hasil riset di universitas tersebut juga membuktikan madu lebih effective dari antibiotic buatan manusia seperti silver sulfadiazine.

Subhanallah, tanpa bukti inipun kami percaya kepada firmanMu ya Allah; kami percaya kepada sabda Rasulmu….bukti ilmiah ini hanya sebagai tambahan ilmu bagi kami…dan hujjah untuk menjelaskan kepada orang yang belum yakin akan kebenaran firmanMu.

Dari Perut Lebah Itu Keluar Minuman Yang Bermacam-Macam Warnanya...


Dari illustrasi anatomi lebah diatas kita dapat segera tahu bahwa meskipun madu dikeluarkan dari perut lebah (di dalam Al Qur’an disebutkan di Surat An Nahl Ayat 69 ”….Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya…”), namun ternyata madu ditempatkan di tempat khusus dalam perut lebah yang disebut perut madu (honey stomach, honey sac atau crop) yang terpisah dari perut besar lebah (large intestine atau stomach). Di dalam perut madu tersebutlah proses penguraian gula komplek (disakarida) diubah menjadi gula sederhana atau mono sakarida.

Sering terjadi kesalah pahaman di masyarakat seolah madu adalah kotoran lebah karena berasal dari perut lebah. Madu bukanlah kotoran lebah meskipun dalam prosesnya melalui perut lebah. Honey sac yang berada di perut lebah sebenarnya lebih merupakan tempat penyimpanan khusus untuk madu selama perjalanan lebah pekerja dari tempat pengambilan nectar sampai ke sarangnya. Selanjutnya nectar yang mayoritas berupa gula disakarida dalam bentuk sukrosa mengalami proses fisika dan kimia sekaligus selama perjalanannya di perut lebah dan dilanjutkan di sarang lebah.

Nectar yang diambil dari bunga-bunga tanaman mengandung gula dan kadar air yang tinggi (sekitar 60%), untuk menjadi madu kadar air ini harus diturunkan secara significant menjadi sekitar 20 % atau bahkan lebih rendah lagi. Proses fisika penurunan kadar air ini mulai terjadi pada saat lebah menjulurkan lidahnya (proboscis) untuk memindahkan Madu sedikit demi sedikit dari dalam perut madu (honey sac) ke sarang lebah. Didalam sarang lebah kadar air terus diturunkan lebih lanjut dengan laju penurunan yang lebih tinggi melalui putaran sayap-sayap lebah yang terus menerus mensirkulasikan hawa hangat ke seluruh ruangan dalam sarang lebah.

Proses kimia dari nectar menjadi Madu terjadi di dalam perut lebah ketika enzym invertase mengubah sukrosa (disakarida) menjadi glukosa dan fruktosa yang keduanya merupakan monosakarida seperti ditunjukkan di ilustrasi di samping.

Madu Bisa Jadi Obat Yang Lebih Baik Dari Obat Buatan Manusia

Berikut adalah artikel menarik yang saya kutip dari Journal of Family Practice :

Diceritakan di dalam journal tersebut seorang laki-laki yang berusia 79 tahun dan menderita diabetes golongan 2 yang sudah parah. Segala bentuk pengobatan modern telah ditempuh bahkan lelaki ini selama 14 bulan telah lima kali masuk rumah sakit dan 4 kali menjalani operasi. Biaya yang dikeluarkan telah mencapai US$ 390,000,- (Sekitar 3.5 milyar rupiah). Dengan segala upaya tersebut luka yang menganga di dua tempat sebesar 8 cm x 5 cm dan 3 cm x 3 cm tetap tidak sembuh meskipun telah diberi antibiotic terbaik yang ada. Bahkan lelaki tersebut telah kehilangan dua jarinya.

Lebih buruk lagi, dua team dokter yang menangani pasien tersebut berusaha meyakinkan pasien bahwa ia perlu diamputasi kakinya mulai lutut ke bawah karena apabila tidak maka nyawanya terancam. Pasien menolak amputasi tersebut dan sebelum dia mendapatkan informasi tentang madu, pasien ini kehilangan satu jari lagi.

Setelah mendapatkan informasi tentang madu, pasien ini mulai membeli madu di super market – mengoleskan pada luka-lukanya dan meninggalkan pengobatan dengan antibiotic lainnya. Karena pengobatan sekarang hanya dengan madu maka biayanya menjadi jauh lebih murah.

Dua minggu setelah menjalani pengobatan dengan madu, jaringan di tempat lukan mulai hidup kembali. Dalam rentang waktu 6 – 12 bulan, pasien tersebut telah sepenuhnya pulih kembali dan lukanya tidak kambuh kembali.